0

bingkisan

 

dia keluar melewati pintu ruang tamu rumah orang tua ku tujuh menit lalu. selama menit itu pula aku diam terpaku tanpa kata (kok jadi seperti lirik sebuah lagu), melihatnya menjauh melalui jendela. semakin jauh. limbung dingin dan sakit, perasaan ku pada menit ke tujuh, saat aku sadar dia tak lagi ada untuk ku.

 

lima belas menit sebelumnya, tunangan ku itu datang ke rumah memberi ku hadiah. bingkisan berbentuk kotak. dibungkus kertas kado warna gelap.

dia sering memberi ku hadiah. sering sekali malah. paling tidak dua bulan sekali. aku pernah dapat entong sayur dari kayu saat dia meminta ku belajar memasak. sebuah jepit rambut warna hijau giok dia berikan saat berharap aku memanjangkan rambut. pada hari dimana dia bilang dia menyayangi ku, aku mendapat sekeping cd mp3 berisi kompilasi lagu-lagu cinta.

 

tunangan ku memberi ku sandal jepit swallow warna putihungu putihhijau putihbiru putihkuning putihmerah dan putihoranye saat dia tahu aku paling suka memakainya. saat ibu membuka rahasia ku padanya, bahwa aku selalu kangen mendengar nya bernyanyi gak jelas sambil nggenjreng gitar, dia merekamkannya untuk ku. hingga aku dapat memutarnya berulang-ulang ketika dia sedang tugas kerja keluar kota.

 

bahkan saat hubungan kami sedang tidak baik-baik saja, dia tidak pernah absen memberi ku bingkisan. dua setengah tahun lalu –saat itu kami masih pacaran-  karena emosi dan hormon perempuan ku sedang bereaksi pada tingkat tertakstabilnya, aku meminta putus hanya gara-gara mendapati nya menyimpan sms seorang teman perempuan. sms yang bahkan tidak ada nada mesra-mesranya sama sekali. dua boks cemilan cokelat dan dua cd mp3 kompilasi lagu milik band luar yang musiknya jejingkrakan dikirimkan nya kepada ku melalui seorang teman.

 

satu bulan penuh dia mendiamkan ku. pada minggu pertama aku langsung menyesal minta putus dari nya. mencoba berbaikan hanya selang tiga hari setelah emosi ku meletup. dia  bergeming. sebulan penuh. sama sekali. benarlah, dua cd dan dua boks cemilan cokelat menemani ku melewati saat itu.

 

damar namanya. tunangan ku. dengan sederhana dia membahasakan cinta. sandal jepit bukannya high-heels. cd bajakan bukannya seikat bunga. dia memilihnya. sederhana namun manis, nyata dan mengena. aku menyukainya. selalu menyukainya.

 

dan aku? aku baru tersadar sepuluh menit yang lalu, bahwa aku tidak pernah membahasakan perasaan ku dengan benar. tidak melalui lisan, pun tindakan.

 

lima belas menit yang lalu kami terlibat dalam percakapan singkat yang tidak biasa. biasanya damar selalu bercerita. banyak hal. banyak sekali. dan aku hanya mendengar. sesekali berpendapat atau menanyakan sesuatu. lima belas menit yang lalu dia bertanya pada ku, linar sayang damar? aku tersenyum. hanya tersenyum dan menatap matanya.

 

ku alihkan pembicaraan pada bingkisan yang dibawa nya, apa lagi ini? buka saja, jawab nya. senang yang bersemangat, perasaan ku setiap kali akan membuka hadiah damar. selalu ku dapat benda-benda sederhana yang mengejutkan. kali itu pun aku bersiap merasakan sensasi kejutannya yang menyenangkan.

 

dan saat aku melihat isinya, deg, aku yakin jantung ku berhenti sepersekiandetik.  tiba-tiba aku mual. kepalaku pening. perasaan ku berantakan hebat. aku benar-benar merasakannya. bukan hiperbola kata. sensasi yang selalu ku sukai tak ku rasakan saat itu. berganti dengan air yang meleleh melalui sudut-sudut mata ku. deras tak terbendung.

 

aku diam dan mengerti.

damar diam dan bersiap pergi.

 

 

 

foto itu berbingkai kayu cokelat tua. bersama nya ada ndari, perempuan yang sms-tak-mesranya dua setengah tahun lalu membuat ku gelap hati. sebelum akhirnya damar pergi, dia mengisahkan cerita yang membuat ku ingin mati.

dua setengah tahun lalu benar-benar tidak ada apa-apa diantara mereka. namun dari sanalah semua bermula. damar dan ndari pada akhirnya jadi sering berkomunikasi. curhat ini, curhat itu. dan ndari jatuh hati pada lelaki ku.

 

ndari. tiga tahun lebih muda dari kami. supel dan periang. memperjuangkan perasaan nya pada damar ku. memberi nya perhatian lebih. tak pernah sungkan mengungkapkan isi hati. dan damar ku membuka hati.

 

foto itu berbingkai kayu cokelat tua. bersama nya ada ndari, perempuan yang sms-tak-mesranya dua setengah tahun lalu membuat ku gelap hati. foto itu bingkisan terakhir damar untuk ku. tetap sederhana dan mengena, namun tidak lagi membahasakan cinta.

 

limbung. dingin. sakit.

 

 

 

 

aku mencintai nya. benar-benar mencintai nya..

 

 

 

 

w.

Advertisements
0

a final code

angin berhembus menyenangkan sekali siang itu. sepertinya sedang sengaja membantuku sok-sokan berada di scene sebuah film jepang yang beberapa waktu sebelumnya ku tonton. tak lebih dari 50 km/ jam ku lajukan motor. melewati jalanan pedesaan yang belum pernah ku tempuh. pohon-pohon hijau di kanan-kiri. aih, syahdu sungguh perjalananku. seandainya tak ku kenakan kerudung, tentulah rambut tanggung tipisku tergerai berkibar-kibar. bakal tambah mirip adegan film. perjalanan pertamaku sebagai penanggungjawab kelas yang mungkin terbilang biasa bagi pengajar lainnya. tidak bagiku.

dua puluh menit sebelumnya ku bulatkan tekad untuk melakukan hal yang paling ku hindari. berinteraksi dengan orang lain. bersinggungan dengan energi baru selalu membuatku tidak stabil. tekad yang akhirnya bulat terbentuk dari tanggung jawab yang dipaksakan padaku. bukan lagi masalah bisa tidak bisa, mau tidak mau atau ikhlas tidak ikhlas. ini keharusan. demi beberapa lembar rupiah aku harus profesional. padaku profesional berarti memanjangkan toleransi dan berkompromi.

dan dalam waktu sebelum duapuluh menit tadi, ku carilah bantuan agar tekadku tambah membulat. ku bayangkan diriku sebagai pemeran utama film jepang yang mengisahkan seorang home teacher muda dengan permasalahannya. pas. hanya saja pengajar muda di film tersebut punya kepribadian yang lively passionate warm cheerful and creative. definitely not so me. acara bayang-membayangkan akhirnya terbatas hanya pada scene perjalanan ke rumah salah satu siswanya. sisanya? jangan tanya. tidak ada yang nyambung. tapi setidaknya tekadku sudah membulat. dan angin yang berhembus kali itu entah bagaimana benar-benar tambah membantu.

sepanjang perjalanan wajahku cengar-cengir senang. setelah tekad akhirnya bulat, aku bisa menikmati peran yang harus ku jalankan. hatiku lumayan senang, tapi kepalaku tetap tak mau diam. dia selalu mengingatkanku bahwa perjalananku memang menyenangkan, tapi nanti sesampainya di tujuan. . wassalam.

langit biru, pepohonan hijau, udara yang menyenangkan, tujuan yang membuatku takut setengah mati dan kepala yang tak mau diam adalah kombinasi yang menarik yang ternyata tetap tidak mampu mengalihkan perasaan dan pikiranku darimu.

telah dua tahun berlalu. dan semua yang terjadi setelahnya hanyalah sekedar distraksi-distraksi singkat yang tidak pernah benar-benar menyembuhkanku. bahkan pada hari di mana angin berhembus begitu menyenangkan itu, saat salah seorang muridku alpha tiga hari berturut-turut tanpa keterangan, saat harus ku panjangkan toleransiku untuk menemui orang tuanya ngaruhke kealphaan anaknya, saat harus berkompromi dengan hal-hal yang ku hindari demi ribuan rupiah, kamu masih tetap menjadi pusat gravitasiku. seberapapun jauh aku telah berlari, jatuhku tetap padamu. seberapapun banyak hal yang telah ku lakukan, perasaan dan pikiranku tetap kembali padamu. pun siang itu.

perjalanan dengan perasaan cengar-cengir lumayan senang melalui jalanan desa yang telah diaspal ternyata tidak menyampaikanku pada tujuan awal. desa tempat di mana muridku tinggal berada di seberang sungai yang cukup besar, yang ketika kau hendak ke sana kau membutuhkan nyali ekstra. jembatan yang akan mengantarkanmu ke sana hanya dapat dilalui satu motor saja dengan papan beton yang miring-miring tak karuan. tekadku lebih bulat dari purnama. namun nyaliku seketika menciut sejadi-jadinya. ku tanyalah jalan lain pada penduduk dekat jembatan. ‘lewat jembatan baru, bu. memutar jauh dari sini. sekitar sekian menit. jalan ke desanya muter-muter, bu. sebaiknya bareng kalih sik sampun pernah ke sana.’ baiklah, aku berprasangka baik sajalah pada Tuhan.

jadilah distraksi singkat yang kali itu berakhir di depan jembatan. kamu kembali memenuhi perasaan dan kepalaku.

malam sebelumnya, fase kembali-rindu-padamu ku untuk yang ke sekian ratus kalinya kembali harus ku lalui. i read our old convo. i read my old diary. i play some songs that remind me of us. whenever i miss you i try to re-find you on my memories. i’ve got not so many (because we didn’t have many, didn’t make many), but they somehow can take me home to you. deep in my heart i’d been hoping all the time that no matter what, i would end up on a movie-scened happyending with you. even until that night. yet, it was a different phase i went through. i didn’t know how, but i managed to know that you’ve already moved on from us. i lost you. i’d been trying to send you many codes. i got no reply but an answer. your belly, your nose, your lips, your heart, your feeling, your memory, your time, YOU, already belong to other woman, to your new love.

belum jadi home visit ke tempat murid yang alpha tiga hari tanpa keterangan. pagi tadi dia sudah berangkat ke sekolah dengan senyum lebar tempatnya menyembunyikan kesedihan yang tak pernah benar-benar ku ketahui. banyak cerita yang ku dengar tentangnya. tidak akan dengan gegabah menyimpulkan. tapi tentang kita sudah ku temukan.

i finally understand why we aren’t meant to be. our personallove relationship blueprints do not match each other. mine is more ¥@#%&?!¥£¢€ than yours. your blueprint is way too common. so patriarchal and physical. so her. the one you finally come home to :’ curvy simple fun easy young smart pretty and normal. all positive traits she has. been hoping all this time that you were my home. but, i realize. . you have no enough space to take me in. i am way too complicated too confusing too difficult too weird for you.

and that night was one of the hardest times ever. i lost my nine-years-old hope in a blink. i lost my grip. i lost you.

pada siang dengan angin berhembus menyenangkan di depan jembatan, Tuhan ternyata sedang memberiku pengetahuan pemahaman dan penerimaan. bahwa ada hal yang tidak bisa kita paksakan menjadi. sekuat dan sesering apapun doa kita rapalkan, setelaten dan sekeraskepala apapun usaha memperjuangkan, jembatan sempit miring itu toh ada di sana menghentikan langkahku, mengalahkan tekad bulatku. dan cetakanmu memang tidak akan pernah pas dengan milikku.

tentu kau sebenarnya telah lama pergi. tidak butuh konfirmasiku untuk melanjutkan langkahmu, but i need to say this for my own sake, for my own recovery, for my own sanity, for my very own closure. . i let you go. i let you go to her. your home. a curvy simple fun easy pretty smart young normal girl.

w.